Ketua Dewan Pendidikan Kota Cilegon Syaeful Bahri memberikan apresiasi atas program sekolah swasta gratis SD dan SMP di Kota Cilegon yang diinisasi Walikota Cilegon Robinsar.

Dimana, program tersebut bukan sekadar janji politik Walikota Cilegon Robinsar saja, melainkan sebuah terobosan historis yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan Kota Cilegon.

“Sebagai akademisi dan Ketua Dewan Pendidikan, saya melihat kebijakan ini memiliki tiga dampak strategis yang luar biasa,” ujarnya.

Tida dampak tersebut, lanjut Syaeful, yakni keadilan sosial dan lemerataan akses mayoritas sekolah di Kota Cilegon dikelola oleh swasta.

Di mana, dengan program tersebut negara hadir secara adil untuk meringankan beban ekonomi orang tua, tanpa membedakan apakah anaknya bersekolah di negeri atau swasta.

“Ini adalah wujud nyata dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Cilegon. Anak-anak dari keluarga kurang mampu kini memiliki peluang yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas tanpa terbebani biaya SPP yang kian tinggi,” ujarnya.

Selanjutnya, imbuh Syaeful, ada dampak solusi tuntas polemik SPMB. Sebab, ketimpangan fasilitas antara sekolah negeri dan swasta sering memicu kecemburuan sosial dalam SPMB.

“Dengan menyamakan akses biaya (gratis-red), kita menghilangkan stigma sekolah negeri untuk yang pintar dan mampu, sekolah swasta untuk yang tidak lolos. Ke depan, kompetisi akan bergeser menjadi kompetisi kualitas pembelajaran, bukan kompetisi kemampuan bayar orang tua,” ujarnya.

Lalu, tegas Syaeful, ada dampak penyelamatan kkosistem sekolah swasta. Karena, banyak yayasan swasta yang kesulitan mempertahankan mutu karena keterbatasan dana dari orang tua di tengah inflasi.

“Subsidi penuh dari Pemkot Cilegon akan menjadi lifeline (jalur kehidupan) bagi sekolah-sekolah swasta untuk tetap menjaga kualitas guru, perbaikan infrastruktur, dan inovasi kurikulum. Ini adalah bentuk kemitraan strategis antara Pemerintah Daerah dan penyelenggara pendidikan swasta,” tegasnya.

Dewan pendidikan sendiri, jelas Syaeful, siap secara penuh untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut.

Bahkan, akan membantu sejumlah hal diantaranya verifikasi data untuk memastikan bantuan tepat sasaran kepada siswa yang benar-benar membutuhkan.

“Kami juga siap melakukan monitoring kualitas untuk engawasi agar dana subsidi digunakan secara efektif untuk peningkatan mutu, bukan hanya operasional rutin, dan melaiukan sosialisasi publik untuk menjembatani komunikasi antara Pemkot, yayasan, dan orang tua agar transisi menuju era Pendidikan Gratis Bermutu berjalan lancar,” ulujarnya.

Menurut Syaeful, 2027 mungkin terasa jauh, namun persiapan matang sejak sekarang adalah kunci kesuksesan.

“Saya yakin, di bawah kepemimpinan Walikota Robinsar, Kota Cilegon akan menjadi percontohan daerah di Banten yang berhasil mewujudkan pendidikan inklusif dan berkeadilan,” pungkasnya.